Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 05 Oktober 2010

Sisi Kelam Part II

Kesimpulannya adalah, profesi Kyabakura-Jo telah dianggap tidak kalah penting
seperti halnya profesi karyawan di dunia bisnis normal. Entah berapa ratus bar yang ada di sebuah wilayah perkotaan besar, dan keuntungan dari bisnis ini tergantung daripada kemampuan para Kyabakura-Jo mempertahankan kehadiran seorang tamu. Persaingan antar bar sangatlah ketat, sehingga apabilaterpilih sebagai 'Kyabakura-Jo Number One' di wilayah tersebut adalah hal yang membanggakan. Ada satu lagi profesi sejenis di dunia hiburan malam, yakni 'Hosuto'. Seperti yang telah kujelaskan di atas, bahwa Hosuto ini adalah hostess laki-laki. Apabila para Kyabakura-Jo bersolek dan berpakaian mahal lagi indah, maka para Hosuto pun tidak kalah menarik. Mereka biasanya bermodalkan jas modern yang tentunya mahal, kemudian bergaya rambut terkini, memakai wangi-wangian, berperawakan kurus dan lembut, berwajah manis, dan siap berlutut merayu rayu tamu wanita yang hadir. Target mereka adalah para tamu wanita tersebut memesan minuman beralkohol termahal yang dijual di setiap bar mereka. Dimana harga satu botol minuman itu bisa sampai ratusan juta atau mungkin 1 milyar rupiah. Wanita-wanita yang datang tidak hanya wanita separuh baya berduit yang mencari 'kehangatan' di luar rumah, tapi juga wanita-wanita mandiri yang memang memiliki penghasilan banyak, atau wanita muda anak orang kaya, atau karyawan di sebuah perusahaan biasa yang masih single dan mati-matian berhemat agar bisa 'menyewa' sang Hosuto. Menjadi seorang Hosuto harus mampu 'minum' alkohol selama jam kerja tanpa mabuk. Dibalik 'kegagahan' para
Hosuto ini ketika melayani tamunya, sebenarnya tidak sedikit yang harus dikorbankan. Terutama kesehatan mereka. Sering ditayangkan di televisi, bahwa seorang Hosuto ternyata akan terkapar di pagi hari karena over-dosis alkohol.Kebanyakan dari merekapun sudah mengidap penyakit paru-paru, pencernaan dll yang parah
karena kadar alkohol yang dikonsumsi sudah melewati ambang normal. Untuk mempertahankan kesehatannya, seorang Hosuto harus bolak-balik ke dokter untuk meminta obat khusus. Setiap kali dokter mengingatkan untuk mengurangi kadar alkohol yang diminum, maka setiap kali pula sang Hosuto mengeluarkan uang banyak
untuk menerima jatah obat bulanan dari sang dokter. Yang membuatku tak habis pikir, mengapa profesi ini tidak dihilangkan saja?. Yang terpikir olehku hanya
satu, yakni berlaku hukum 'bagi untung' antara pasien dan dokter!. Sehingga nasehat dokter hanya menjadi kicauan burung gagak yang tidak perlu didengarkan. Dari pihak dokter sendiri, mungkin nasehat yang diberikannya hanya semacam 'kewajiban' tapi tidak
perlu dituruti. Selain kesehatan yang harus dikorbankan, tidak sedikit cerita yang mengharukan disandang oleh seorang Hosuto. Pilihan hidup sebagai seorang Hosuto adalah jalan hidup yang aku yakini tidak normal. Ada semacam keterpaksaan dalam menjalaninya. Dari sekian ratus ribu Hosuto yang berkeliaran di seluruh antero Jepang,
tidak sedikit yang sebenarnya berstatus mahasiswa. Tertarik dengan ratus juta yen yang melayang-layang dari kantong para tamu yang dilayani, merupakan penyebab utama mereka memilih profesi ini. Kemudian, rasa ingin mendapatkan gaya hidup mewah tanpa perlu kerja seumur hidup di sebuah perusahaan. Tetapi ada juga yang terpaksa bekerja sebagai Hosuto karena merasa bertanggung jawab untuk menghidupi anggota
keluarganya yang cacat, orangtuanya yang sudah jompo, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari para Hosuto ini 'menyembunyikan' identitas asli mereka di depan sanak
keluarganya. Sehingga anggota keluarga yang berada di kampung hanya menyakini kalau anak mereka bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang salary-man
(karyawan). Setahun belakangan ini sudah ada trend baru di dunia hiburan televisi. Yakni, kemunculan seorang mantan Hosuto yang menjadi selebriti. Di satu sisi, mungkin
trend ini jadi kiblat baru untuk Hosuto-Hosuto lain agar kelak bisa mengikuti jejak seniornya yang berkibar di layar tv.
Seperti halnya Kyabakura-Jo, maka di dunia Hosuto pun dikenal istilah Number One. Tidak hanya Number One se-bar, tapi juga ada kompetisi untuk menjadi nomor
satu di seluruh Jepang. Kompetisi gila!, tapi nyata. Kompetisi ini ditayangkan di media tv Jepang, dan menjadi contoh bagi yang muda-muda. Maka terbentuklah
lingkaran setan di dalam generasi muda Jepang untuk meniru senior-senior mereka untuk berprofesi sebagai Kyabakura-Jo atau Hosuto. Kyabakura-Jo dan Hosuto, dua profesi yang masih akan terus diminati oleh anak muda Jepang yang ingin hidup
senang dengan jalan pintas. Tidak ada diskriminasi jenis kelamin, perawakan wajah dan tubuh untuk menjadi seperti mereka. Asalkan mereka serius dan mau
'berjibaku' menjalani profesi ini, maka kenikmatan dunia sudah pasti ada di tangan. Tapi mereka akan membayar mahal kenikmatan dunia itu, yakni dengan perasaan kering kerontang dan kehampaan di lubuk hati yang paling dalam. Percayalah itu!

sumber:Kyabakura- Jo, Hosuto...sisi kelam masyarakat Jepang
==========================================

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

My Blog List

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "